Rabu, 18 Maret 2015

Makalah Penalaran, Berfikir Induktif dan Berfikir Deduktif


MAKALAH PENALARAN BERFIKIR INDUKTIF DAN BERFIKIR DEDUKTIF


http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/1/19/Logo_Gunadarma.jpg


Disusun Oleh :

Nama : Muhayati
NPM : 18112110
Kelas : 3ka39


Fakultas Ilmu Teknologi dan Komputer
Jurusan Sistem Informasi
Universitas Gunadarma
2015


Kata Pengantar

Puji syukur Saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan bimbinganNya yang selalu menyertai dan di dalam memahami ilmu-ilmu yang saya pelajari dan aplikasikan di dalam kehidupan. Makalah ini dibuat berdasarkan tugas yang diberikan oleh dosen Mata Kuliah Bahasa Indonesia 2 Ibu Hasdiana. SIkom yang kami hormati.
Tugas ini adalah tugas softskill yang membahas mengenai “ Penalaran, Berfikir Deduktif dan Berfikir Induktf “. Sehingga di dalam tugas makalah ini membahas lebih detail apa saja yang bisa kita pelajari mengenai Penalaran itu sendiri. Tugas makalah ini kami tunjukan untuk saya sendiri sebagai pelajar yang belajar mamahami mengenai Penalaran. Semoga Tugas makalah ini dapat memberikan manfaat  yang berguna untuk pembaca.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.



Bekasi, 14 Maret 2015


Penulis                        







BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Dalam proses berpikir manusia untuk menghubungkan fakta-fakta atau data yang sistematik sampai pada  suatu kesimpulan berupa pengetahuan. Dimana penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai suatu kesimpulan yang logis. Pengetahuan ilmiah proses berpikir kedalam  aplikasi dari logika yang disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar. Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif.
B.     Rumusan Masalah
1.      Penjelasan mengenai Penalaran ?
2.      Penjelasan mengenai Berfikir Induktif ?
3.      Penjelasan mengenai Berfikir Dektutif ?
C.     Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui dan memahami definisi Penalaran, Berfikir  Deduktif dan Induktif.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    PENGERTIAN PENALARAN

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Dalam pengertian yang lain penalaran adalah suatu proses berfikir untuk menghubung- hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Cara penarikan kesimpulan ini disebut dengan logika. Secara umum, logika dapat didefinisikan sebagai sarana untuk berfikir secara benar atau sahih. Yang mana didalam logika itu, menyatakan, menjelaskan, dan mempergunakan prinsip- prinsip abstrak dalam merumuskan kesimpulan.
Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga, maka akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis. Berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang akan menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut Premis dan hasil kesimpulannya disebut  konklusi. Berdasarkan jenisnya, proposisi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu proposisi empirik dan proposisi mutlak. Proposisi empirik adalah pernyataan yang dapat diverifikasi secara empirik. Sedangkan Proposisi mutlak adalah proposisi yang jelas dengan sendirinya sehingga tidak perlu dibuktikan secara empiris.

B.     BERFIKIR SECARA INDUKTIF

Berfikir induktif adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan – pernyataan yang khusus dan menghasilkan kesimpulan yang umum. Dengan kata lain kesimpulan, yang diperoleh tidak lebih khusus dari pada pernyataaan (premis).
         Dalam proses penalaran terdapat berfikir secara induktif yang terbagai dalam beberapa jenis diantaranya :





1)      Generalisasi
   Generalisasi dimana proses penalaran yang megandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Dari beberapa gejala dan data dapat disimpulkan, setelah beberapa data sebagai pernyataan memberikan gambaran.
Contoh:
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jadi, jika dipanaskan semua logam akan memuai.
Benar atau tidak benarnya rumusan kesimpulan secara generalisasi, itu dapat dilihat dari hal-hal berikut.:
a)      Data itu harus memadai jumlahnya. Semakin banyak data yang dipaparkan, semakin benar simpulan yang diperoleh.
b)      Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan kesimpulan yang benar.
c)      Pengecualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.

2)      Analogi
Analogi adalah cara bernalar dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh:Nina adalah lulusan akademi A.
 Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
 Ali adalah lulusan akademi A.
 Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
 Tujuan penalaran secara analogi adalah sebagai berikut :
a)      Analogi dilakukan untuk meramalkan sesuatu.
b)      Analogi dilakukan untuk menyingkap suatu kekeliruan.
c)      Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.




3)      Hubungan Kausal
   Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang memiliki pola hubungan sebab akibat. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, terdapat tiga pola hubungan kausalitas. Yaitu sebagai berikut:
a.       Sebab-Akibat
   Sebab-akibat ini berpola A menyebabkan B. Disamping itu, hubungan ini dapat pula berpola A menyebabkan B, C, D, dan seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu. Hubungan kausal diperlukan kemampuan penalaran seseorang untuk mendapatkan simpulan penalaran.
   Dalam kaitannya dengan
b.      Akibat-Sebab
         Dalam pola ini memulai dengan peristiwa yang menjadi akibat. Kemudian  analisis untuk dicari penyebabnya.
c.      Sebab Akibat -1 Akibat -2
         Suatu penyebab dapat menyebabkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikianaalah seterusnya, hingga timbul arangkaian beberapa akibat.

C.     BERFIKIR SECARA DEDUKTIF
    Berfikir secara Deduktif adalah proses penalaran untuk manarik suatu kesimpulan dari suatu prinsip atau sikap yang berlaku umum untuk kemudian ditarik kesimpulan yang khusus. Dimulai dari hal-hal umum, menuju kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah.
     Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tak langsung.
                                                                                               


                                                                                               
1)      Menarik Kesimpulan secara Langsung
    Simpulan (konklusi) secara langsung atau entimen, adalah suatu proses penarikan kesimpulan yang ditarik dari satu premis.
Misalnya:
1)        Semua S adalah P. (premis)
        Sebagian  P adalah S. (simpulan)
2)      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
       Tidak satu pun P adalah S. (simpulan)
3)      Semua S adalah P. (premis)
       Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
4)      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
       Semua S adalah tak-P. (simpulan)
5)       Semua S adalah P. (premis)
       Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
       Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan)

2)      Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
   Penarikan kesimpulan secara tidak langsung atau silogisme, adalah suatu proses penarikan kesimpulan yang memerlukan dua data sebagai data utamanya. Dari dua data ini, akan dihasilkan sebuah kesimpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.
   Untuk menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat umum (PU) dan premis yang kedua bersifat khusus (PK).
Contoh sebagai berikut :
PU             : Setiap manusia akan mati
PK             : Pak ujang adalah manusia
K               : Pak ujang akan mati
 



 Hal- hal penting yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu silogisme adalah sebagai berikut:
a)      Silogisme terdiri dari tiga pernyataan.
b)      Pernyataan (premis) pertama disebut premis umum.
c)      Pernyataan (premis) kedua disebut premis khusus
d)     Pernyataan ketiga disebut kesimpulan.
e)      Apabila salah satu premisnya negatif, maka kesimpuulannya pasti negatif.
f)       Dua premis negatif tidak dapat menghasilkan kesimpulan.
g)      Dari dua premis khusus tidak dapat ditarik kesimpulan.
         Pola penarikan kesimpulan tidak langsung atau silogisme, dapat dikelompokan kedalam beberapa jenis:
a.       Silogisme Kategorial
    Silogisme kategorial adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi (pernyataan). Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi dan  merupakan kesimpulan. Premis yang bersifat umum, disebut premis mayor. Dan premis yang bersifat khusus disebut premis minor. Dalam kesimpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh:
PU       : Semua manusia bijaksana.
PK       : Semua polisi adalah bijaksana.
K         : Jadi, semua polisi bijaksana.
        Untuk menghasilkan kesimpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah adalah silogisme diatas ialah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.
Contoh:
PU       : Semua manusia tidak bijaksana.
PK       : Semua kera bukan manusia.
K         : Jadi, (tidak ada kesimpulan).
       



 Aturan umum mengenai silogisme kategorial adalah sebsgai berikut:
a)      Silogisme harus terdiri atas tiga term. Yaitu term mayor, term minor dan term penengah.
b)      Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor dan simpulan.
c)      Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
d)      Bilah salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
e)      Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
f)        Dari dua premis yang khusus, tidak dapat ditarik satu simpulan.
g)      Bila salah satu premis khusus, simpulan akan bersifat khusus.
h)      Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
b.      Silogisme Hipotesis
   Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas pernyataan umum, pernyataan khusus, dan kesimpulan. Akan tetapi, premis umumnya bersifat pengandaian. Hal ini ditandai adanya penggunaan konjungsi jika dalam pernyataannya. Dengan demikian, pernyataan umumnya dibentuk oleh dua bagian. Bagian pertama disebut anteseden dan bagian keduanya disebut konsekuensi. Sementara itu, pernyataan khususnya menyatakan kenyataan yang terjadi, yang kemungkinannya hanya dua: sesuai atau tidak sesuai dengan yang diandaikannya itu.
Contoh PU            : jika saya lulus ujian, saya akan melanjutkan kuliah keperguruan tinggi.
                                            (anteseden)                (konsekuensi)
c.       Silogisme Alterntif
               Silogisme ini menggunakan pernyataan umum yang memiliki dua alternatif. Jika alternative satu itu benar menurut pernyaataan khususnya, alternatif yang lain itu salah.
      Contoh:
      Premis Mayor : Proposisi alternative (proposisi yang mengandung kemungkinan-kemungkinan atau pilihan-pilihan)
      Premis Minor    : Kesimpulannya tergantung pada premis minor.
      PU ; Lampu temple ini akan mati apabila minyaknya habis atau sumbunya                                               pendek. 
      PK  ;   Lampu ini mati, tetapi minyaknya tidak habis.
      K    :   Lampu ini mati karena sumbunya pendek.



d.      Entimen
   Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
PU ; Semua sarjana adalah orang cerdas.
PK ; Ali adalah seorang sarjana.
K   : Jadi, Ali adalah orang cerdas.
         Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas karena dia adalah seorang sarjana”.        
Beberapa contoh entimen:
Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
         Dengan demikian, silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat diubah menjadi silogisme.














BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Penalaran adalah suatu proses berfikir dari pengamatan indera yang menghasilkan konsep untuk menghubung- hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Penalaran dalam prosesnya ada 2 macam, yaitu berfikir secara Deduktif dan berfikir secara Induktif.
         Berfikir Deduktif adalah metode menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu, untuk seterusnya diambil kesimpulan yang khusus.  Berfikir Induktif adalah metode dalam berpikir dengan menarik suatu kesimpulan dari fakta- fakta yang sifatnya khusus, untuk kemudian ditarik kesimpulan yang sifatnya umum.

B.     SARAN
          Dianjurkan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penalaran, berfikir Induktif dan Dekduktif, Karena pengetahuan atau pemahaman yang baik dan benar, akan mempengaruhi terhadap pola pikir yang dapat kembangkan, kedalam suatu masalah atau untuk menyimpulkan suatu masalah. Dan bagaimana cara mengimplemenatasikan kedalam kehidupan dan Maka proses penalaran ini harus kita ketahui, bahkan pahami dengan sebenar-benarnya.



DAFTAR PUSTAKA


Sabtu, 26 April 2014

Pengambilan Keputusan Dalam organisasi

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI 1 Definisi dan Dasar Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi. Keputusan adalah suatu pemutusan atau pengakhiran dari pada suatu proses pemikiran tentang suatu masalah atau problem, untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjadikan pilihan pada salah satu alternative tertentu. Atmosudirsjo S Prajudi(1982:87). Setelah pengertian keputusan disampaikan, perlu pula diikuti dengan pengertian tentang “pengambilan keputusan”. Beberapa pengertian tentang pengambilan keputusan menurut beberapa buku : 1. Pengambilan keputusan yaitu hal yang dilakukan oleh ketua dalam suatu kegiatan yang dilakukan dalam organisasi untuk mengambil suatu tindakan atau pilihan yang harus dilakukan yang akan menghasilkan keputusan untuk kebaikan bersama (stephen P.Robbins: manajemen). 2. pengambilan keputusan yaitu proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Proses itu untuk menemukan dan menyelesaikan masalah dalam organisasi. J. Salusu (1966:47). Keputusan yang diambil memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Ada keputusan yang tidak terlalu berpengaruh terhadap organisasi, tetapi ada keputusan yang dapat menentukan kelangsungan hidup organisasi. Oleh karena itu, hendaknya mengambil keputusan dengan hati-hati dan bijaksana. Dasar Pengambilan Keputusan : Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu : 1. Intuisi Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengandung beberapa keuntungan dan kelemahan. 2. Pengalaman Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan untung ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki banyak pengalaman tentu akan lebih matang dalam membuat keputusan akan tetapi, peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini. 3. Fakta Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada. 4. Wewenang Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. 5. Logika/Rasional Pengambilan keputusan yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan 2. Jenis-jenis keputusan organisasi. Secara umum keputusan dibedakan menjadi 2 keputusan yang diprogramkan (program decision) melibatkan masalah-masalah yang sederhana, umum, dan kerap terjadi dimana solusinya telah ditentukan sebelumnya. dan keputusan yang tidak diprogramkan (non-programmed decision) masalah-masalah lain yang lebih rumit.Louis E Boone dan David L. Kurtz (2007 : 394). Jenis keputusan dibagi menjadi tiga macam : 1. keputusan terstruktur adalah keputusan yang dilakukan secara berulang-ulang dan bersifat rutin. 2. Keputusan semiterstruktur adalah keputusan yang mempunyai sifat sebagai keputusan dapat ditangani oleh komputer dan yang lain tetap harus dilakukan oleh pengambil keputusan. 3. Keputusan tak terstruktur adalah keputusan yang penangananya rumit, karena tidak terjadi berulang-ulang atau tidak sengaja terjadi. 3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan sebagai berikut : 1. Kondisi/kedudukan. Dalam kerangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan seseorang dapat dilihat dalam hal berikut : A. Letak posisi; dalam hal ini apakah is sebagai pembuat keputusan (decision maker), penentu keputusan (decision taker) ataukah staf (staffer). B. Tingkatan posisi; dalam hal ini apakah sebagai strategi, policy, peraturan, organisasional, operasional, teknis. 2. Masalah Masalah atau problem adalah apa yang menjadi peng-halang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan daripada apa yang diharapkan, direncanakan atau dikehendaki dan harus diselesaikan. 3. Situasi Situasi adalah keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan, yang berkaitan satu sama lain, dan yang secara bersama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat. Faktor-faktor itu dapat dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut : A. Faktor-faktor yang konstan (C), yaitu faktor-faktor yang sifatnya tidak berubah-ubah atau tetap keadaanya. B. Faktor-faktor yang tidak konstan, atau variabel (V), yaitu faktor-faktor yang sifatnya selalu berubah-ubah, tidak tetap keadaannya. 4. Kondisi Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan daya gerak, daya ber-buat atau kemampuan kita. Sebagian besar faktor-faktor tersebut merupakan sumber daya-sumber daya. 5. Tujuan. Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu/ telah ditentukan. Tujuan yang ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objective.   4. Implikasi Manajerial Implikasi manajerial dalam proses komunikasi adalah terjadinya komunikasi efektif antar karyawan baik komunikasi secara vertikal maupun horizontal dimana komunikasi yang efektif akan membuahkan hasil yang baik dalam rangka memajukan perusahaan. Referensi Nachrowi ,Djalal Nachrowi, PhD, dan Hardius Usman, Msi. 2004. Teknik pengambilan keputusan. Jakarta : PT Grasindo. Prajudi, Atmosudirdjo S. 1982 Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan : Decision Making. Jakarta : Ghalia Indonesia. Boone, Louis E dan David L. Kurtz. 2007. Pengantar bisnis kontemporer. Selemba Empat : Jakarta. http://cindy-ts.blogspot.com/2013/05/implikasi-manajerial-dalam-kelompok.html